Tampilkan postingan dengan label Catatan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Catatan. Tampilkan semua postingan

Senin, Juli 02, 2012

Kajian Terhadap Disparitas Jumlah Halaman pada Tugas Mahasiswa Studi Kasus : Proposal Penelitian Mahasiswa PWK UGM 09


Disparitas jumlah halaman diperkirakan masih akan terjadi pada proposal penelitian mahasiswa Perencanaan Wilayah dan Kota UGM 2009 besok pagi, Selasa, 3 Juli 2012. Tiga paham yang berkembang terkait penyebab munculnya ketimpangan ini adalah keterbatasan kapasitas otak mahasiswa VS banyaknya inspirasi mahasiswa, Malas VS Rajin, dan Ringkes VS Bertele-tele. Namun, belum ada kesepakatan para ahli terkait kebenaran teori-teori tersebut.

Permasalahan ini diperkirakan masih akan berlangsung dalam jangka waktu yang belum ditentukan. Untuk itu, dibutuhkan beberapa intervensi dari policy maker seperti pembatasan halaman maupun pemberian DISINSENTIF bagi mahasiswa yang menggunakan jumlah halaman berlebihan. Demikian saya, Novia Valentina, dari Jogjakarta melaporkan.

Ps : Tingkat disparitasnya boleh looh diukur pake Indeks Williamson atau Indeks Gini. *Ini nantangin* #eehh? 

Kamis, Februari 02, 2012

Cuap Cuap Balii

Pengen curhat soal Baliiii.. Hehee.. Well, merasa beruntung pertama kali ke Bali tinggalnya di bilangan Nusa Dua. Kawasan ‘gemerlapan’ di Bali. *Cuma kosannya aja yang gak gemerlapan. Malah ‘gemericikan’  akibat tembok yang ngerembes aer. Lembaaab. Cuma karena gak sempat milih dan kebelet butuh akhirnya tinggal disana juga. :( * Nusa Dua bagus. Pantai terbaik yang pernah saya kunjungi. Walaupun saya percaya pantai di Sikuai pasti lebih bagus. Karimun Jawa mungkin juga. Cuma belum pernaaaaahh. -________-

Penampakan Nusa Dua Beach begini nih. *Modelnya ‘mbak mbak’ co cwit yang lagi ngumpulin kerang bareng si pacar. J*



Trus kemarin juga sempat ke Bali Collection. Semacam tempat belanja doang sih. Cuma atmosfernya rada beda aja. Berasa lagi ada di eropa. Pengen bikin gituan ntar di padang. Hehe.. Di Bali Collection ini juga ditaro World Peace Gong yang langsung diresmiin sama Obama di International World Peace Day sekaligus ASEAN Summit 21 September lalu. Wold Peace Gong ini dikelilingi patung-patung tokoh-tokoh perdamaian dunia. Ada Obama, Gandhi, Mother Teresa, dan Nelson Mandela. Penampakannya Obama kaya giniii.


Trus pengen curhat soal makanan juga. Disini kita udah berasa bule pol. Gak pagi siang malem makan roti sama mie. -___- Untungnya kalo siang pas masuk kantor dikasi makan siang gretongan. Sesuatu banget emang. Mayan ngirit. Hehehe. Sebagai bukti penderitaan kita begini nih sepiring mie dibagi empat orang. Menu makan malam kita. Ngeneess.


Sekali-kali makan enak kita cuma ke KFC sama Bali Food Corner masih di bilangan Nusa Dua. Ayam betutunya ‘menggiurkan’ banget di foto eh ternyata aslinya disajiin cuma sepotong paha dan segepok kecil nasi. Masih laper mamaaaa.. :’(



Nah kalo yang ini nyempetin motion bunga kamboja yang di Bali gak ngerti kenapa banyak banget.


Terakhir sebagai penutup pengen bilang satu hal yang paling saya suka di Bali adalaaahhhh.. Banyak bulenya. Cocok buat cuci mata. *eeaa* *eh lagian cowo lokal juga ‘ehem’ banget kok. Senyumnya beda.* eh???? :D

Materialisme

“Materialistis” mungkin belakangan sudah melabeli remaja-remaja putri di Indonesia. Bukan hal yang baru memang. Pandangan bahwa wanita mencintai uang memang sudah berakar di kepala masyarakat Indonesia. Bahkan terkadang pandangan ini ikut ‘dijual’ di beberapa program TV seperti  sinetron yang menceritakan tentang wanita yang rebutan warisan, atau remaja putri yang ‘doyan om-om’ cuma demi uang. Lantas apakah pandangan ini benar-benar sesuai dengan realita di lapangan? Apakah sikap yang seperti ini pantas untuk dianut oleh remaja-remaja putri di Indonesia?

Dilihat dari sisi keislaman, Allah SWT menjanjikan akan mengabulkan doa-doa hamba-Nya yang beriman. Termasuk dari sisi materi. Rasulullah SAW pun dicatat sejarah sebagai salah satu pedagang ulung yang jujur. Bahkan masuknya beberapa tokoh yang terbilang kaya disebutkan sebagai salah satu ‘pertolongan’ bagi umat islam kala itu. Lantas kenapa dewasa ini pandangan bahwa islam sama sekali terpisah dari harta dan kebendaan seolah menjadi kiblat cara pandang sebagian besar tokoh-tokoh yang dikenal sebagai sosok yang dekat dengan agama? Kenapa harta belakangan dipandang sebagai symbol keserakahan bukan sebagai suatu benda yang mampu memberikan surga bagi si pemilik ketika harta tersebut digunakan dijalan-Nya? Well, islam dan harta bukanlah sesuatu yang terpisah. Keduanya merupakan dua hal yang saling mendukung atau saling menjerumuskan. Tergantung ‘wise’-nya si empunya.

Adalagi cara pandang yang salah seperti “uang gak bisa beli kebahagiaan” menghalalkan kita berpikir ‘gak ada uang juga gak apa-apa’. Padahal benarkah demikian? Kalaulah ada uang saja belum mampu membeli kebahagiaan, apalagi tanpa uang! -______- Paradigma yang salah ini mestinya kita coba pikirkan ulang. Kalau orang bilang uang tak bisa memberi kebahagian berarti uang dan kebahagiaan merupakan dua hal yang benar-benar terpisah dan tidak terkait sama sekali. Lantas nyaman mana menangis di rumah mewah dibanding menangis di gubuk derita dengan rembesan hujan menetes dikepala akibat atap rumah yang bocor? Jelas lebih nyaman menderita ditengah rumah mewah! Uang tak bisa beli kebahagiaan! Memangnya kemiskinan bisa? Sama! Kaya dan miskin sama-sama tak mampu membeli kebahagiaan. Lantas kenapa kita bersikeras untuk tidak kaya? Masing-masing orang punya peluang bahagia dan tidak bahagia 50 : 50. Si kaya punya peluang kebahagiaan 50. Dan si miskin 50. Lantas kita punya alasan apa untuk tidak kaya? Jadi, sah-sah saja saya pikir ketika kita punya hasrat ingin kaya. Bahkan harusnya memang begitu. Seharusnya semua remaja putri di Indonesia MEMANG ingin kaya. Harusnya kita berbondong bondong berdoa pada Allah semoga kita semua diberi kekayaan yang berlimpah. Amien.

Jadi sebenernya apa yang salah? Yang salah adalah terlalu mencintai uang hingga menghalalkan segala cara untuk dapat uang. Itu saja. Tak ada yang salah dari menginginkan kekayaan. Cuma jangan sampai hal ini bikin kita buta dan melihat segalanya dari sudut pandang ‘UANG’. Kadang program-program televisi terlalu berlebihan menggambarkan kecintaan wanita terhadap uang. Padahal toh kenyataannya hanya sedikit dari total wanita yang benar-benar buta kerana uang seperti yang seringkali ditayangkan. Dan hal lain yang salah adalah mencampur adukkan urusan uang dengan hal lain di kehidupan kita. Itu juga yang bikin banyak orang korupsi, matre, atau pilih-pilih teman. Intinya, boleh berniat untuk kaya tapi teteup perhatikan caranya yaa.. J

Dan Senja Tak Lagi Sama

Manusia adalah apa yang pengalaman berikan.

Siapa tak suka senja? Saat dimana cahaya matahari berkilauan dan menerpa tubuh. Hangat. Tak lagi panas. Seolah panas yang ada hanyalah sisa suhu tinggi yang telah habis dimakan siang. Siapa tak suka senja yang penuh jingga? Warna berbeda yang dihamparkan langit penuh cinta. Siapa tak suka senja di pantai biru? Saat kilau mentari terbias bak mutiara di dasar samudera. Tapi siapa sangka senja ternyata tak selalu sama.

Dan senja ini berbeda. Senja ini tak sama seperti senja sebelumnya. Sebelum langit memberikan pengalaman duduk di ruangan ber-AC didepan karyawan-karyawan yang setiap hari bergelut dengan kepariwisataan Indonesia. Senja yang lalu hanya berisi mimpi-mimpi menjadi seorang pengusaha. Mimpi-mimpi mendalami pariwisata. Dan mimpi-mimpi menjadi seorang perencana pembangunan kota. Yak. Senja yang menampilkan persilangan antara ketiga mimpi tadi. Pengusaha property bidang pariwisata. Senja ini saya disini. Sebuah senja di Pulau Dewata memberikan satu cara pandang yang berbeda.

Dilema besar memang seiring berkembangnya sektor pariwisata sebagai sektor yang mulai dilirik sebagai salah satu alternatif basis perekonomian dengan multiplier effect cukup besar bagi perekonomian. Sektor ini belakangan seolah berkembang sebagai primadona di tanah air. Apalagi mulai muncul banyaknya buku-buku pedoman perjalanan membuat pariwisata tak hanya diidolakan sebagai sektor produksi bagi perekonomian melainkan juga sektor yang dikonsumsi masyarakat tanah air besar-besaran. Tentu saja peluang investasi yang besar bagi pelaku bisnis property tanah air maupun internasional. Lantas benarkah hal ini berdampak positif bagi perkembangan kepariwisataan Indonesia?

BTDC (Bali Tourism Development Corporation ) Nusa Dua adalah sebuah BUMN (Badan Usaha Milik Negara) yang bekerja focus di bidang pariwisata Indonesia. Bermula dari Nusa Dua, BTDC membangun sebuah resort gemerlapan di daerah tandus di bilangan Nusa Dua. Sebuah rencana pengembangan yang bagus memang. Memanfaatkan lahan tandus menjadi lahan produktif yang membawa devisa cukup besar. Akan tetapi pada kenyataannya mampukah resort ini bersinergi dengan sektor lain yang mampu menunjang ekonomi kerakyatan?

Developer dan masyarakat ibarat dua binatang yang saling memangsa demi mempertahankan hidup satu sama lain. Setidaknya demikian yang terlihat. Ibarat pembangunan mall dengan pasar disekitarnya, keduanya adalah dua hal yang saling mematikan. Hanya saja kasusnya sedikit berbeda pada pembangunan kawasan wisata. Ketika mall dan pasar dibangun berdekatan maka pasar akan mati. Karena kecenderungan konsumen memilih mall sebagai best choice. Tapi ketika sebuah resort disandingkan dengan budget tourism maka resort yang ada akan mati. Kenapa? Karena tak lagi akan ada sisi ke-private-an dari resort yang biasanya menjadi nilai lebih yang dijual oleh pengembang. Pariwisata merupakan satu sektor yang ‘menjual’ kesenangan dan ketika kesenangan itu dinikmati oleh semua orang maka konsumen akan kehilangan esensi dari ‘kesenangan’ itu sendiri. Berbeda dengan sektor lain seperti perdagangan. Hukum alam yang menyebabkan resort mau tak mau tak bisa disandingkan dengan budget tourism. Dalam hal ini butuh satu konsep baru dengan ketentuan-ketentuan tertentu yang diharapkan mampu mensinergikan sebuah resort dengan budget tourism area. Membuat senja ini sedikit berbeda.

Senja ini tak lagi sama. Sebuah senja di pulau Dewata. Mimpi itu terkubur dulu sementara. Selagi keduanya masih saling memangsa maka mimpi itu tak untuk jadi nyata. Lupakan sudah lupakan sajaa.. J

Sabtu, Januari 14, 2012

Didikan Shubuh

Lemme tell you sesuatu yang sangat saya rindukan dari my lovely hometown. Kinda local wisdom-nya West Sumatera. Kenapa saya bilang local wisdom? Karena rasa-rasanya saya toh belom pernah denger yang begituan selama tinggal di Jogja dan selama liburan di Jakarta juga. Oke mungkin daerah lain punya jadi yuk mari kita sebut saja sebagai local wisdom-nya Indonesia named DIDIKAN SHUBUH.

Jadi didikan shubuh ini adalah semacam tempat buat anak-anak kecil, khususnya TK dan SD belajar agama di Sumatera Barat. Biasanya jadi bagian dari program TPA yang diselenggarakan di tiap-tiap masjid dan surau *aka musholla dalam bahasa minangkabau yang sudah diserap dan dijadikan bahasa nasional Indonesia*. FYI aja, dideket rumah saya ada 3 masjid dan surau dan tiga tiganya punya didikan shubuh. Jadi didikan shubuh ini diadakan setiap hari minggu pagi yang notabene jadi hari libur sekolahan buat anak-anak. Bayangin gimana susahnya ngebangunin anak-anak yang masih di usia lagi doyan doyannya tidur. Dan kami semua toh dibangunkan sekitar jam 4.00-4.30 shubuh waktu ayam jago bahkan belom bangun. *Oke yang ini lebay*

Kita semua dibangunin dan lari-larian bareng-bareng ke masjid sambil neriakin ayat-ayat yang dikasih minggu lalu. Yak, emang ada beberapa tingkatan dalam program yang dikasih ke anak-anak. Biasanya waktu didikan shubuh, anak-anak yang paling kecil diajarin hapalan sholat yang diuji progress-nya setiap minggu. Yang lebih gede disuruhin hapalan ayat pendek, dan yang lebih gede lagi buat cowo diajarin adzan buat cewe ngaji quran dan terjemahan. Tiap minggu kita pasti punya tugas yang progress-nya dipantau dan itu berbeda masing-masing individu. Didikan shubuh di Sumatera Barat bahkan kalo gak salah pake hymne yang anak-anak di masjid manapun bisa nyanyiin. Sayangnya karena saya tinggal di komplek yang isinya campur aduk antara Jawa, Batak, Minang, dan Jambi, didikan shubuh yang saya dapet rada beda dari didikan shubuh kebanyakan di Sumatera Barat, soalnya guru ngajinya orang Lombok juga, dan saya gak diajarin hymned eh. -_____-

Kadang udah tua kaya gini jadi kangen juga ikut didikan shubuh. Apalagi sekarang setelah jadi mahasiswa dan balik ke Sumatera Barat rasanya selalu dibuat malu setiap minggu pagi. Pagi-pagi begitu saya bangun anak-anak didikan shubuh udah pada lari-larian aja balik dari masjid nah saya masih belekan. Emang makin tua kita gak lagi punya hari-hari yang teratur dan semangat kaya dulu. Sekarang banyak capeknya. Emang factor usia juga sih. Dulu mana pernah begadang ngerjain tugas. Dulu mana pernah bermata panda. Dulu mana pernah insomnia gara-gara patah hati. #eeaaa.. Dulu aja waktu jaman SD minggu pagi itu rasanya berkah yang luar biasa banget. Paginya didikan shubuh, eh begitu balik udah ada Chibi Maruko Chan jam 7 pagi, ada Let’s Go tamiya tamiya-an jam 7.30, ada doraemon jam 8 pagi, trus aja gitu sampe jam 3 sore dan gak ada yang nyuruh beranjak dari depan tipi selain buat makan siang doang. Maka nikmat Allah mana lagi yang kamu dustakan? Hehe.. J

Sekarang udah gede yaa. Dan semuanya udah beda. Semoga Didikan Shubuh tetep bertahan di Sumatera Barat yang notabene 100% muslim. Biar semua anak-anak punya sesuatu yang dikangenin juga setelah gede. Semoga local wisdom ini buat seterusnya bisa dikenal juga jadi bagian dari kebiasaan penduduk Sumatera Barat. 

Senin, November 28, 2011

Ironi UUD 45

Pasal 34
Normatif : Fakir miskin dan anak-anak terlantar dipelihara oleh Negara
Praktis : Fakir miskin dan anak-anak terlantar digusur dari mengamen di perempatan oleh Negara

Pasal 33 (3)
Normatif : Bumi, air, dan kekayaan alam yang terkandung didalamnya dikuasai oleh Negara dan digunakan untuk sebesar-besar kemakmuran rakyat
Praktis : Bumi, air, dan kekayaan alam yang terkandung didalamnya dikorupsi oleh Negara dengan embel-embel digunakan untuk sebesar-besar kemakmuran rakyat

Pasal 27 (2)
Normatif : Tiap-tiap warga Negara berhak atas pekerjaan dan penghidupan yang layak bagi kemanusiaan
Praktis : Tiap-tiap warga Negara berhak atas pekerjaan dan penghidupan yang layak bagi kemanusiaan asal mbayar yaa.. J

Memberi Untuk Menerima

Sedekah itu ibarat orang berkulit (maaf) item pengen make baju merah. Kalo harus nunggu putih dulu kapan make baju merahnya? Gitu juga dengan sedekah. Kalo harus nunggu kaya dulu kapan sedekahnyaaaa??? Bersedekahlah maka kamu akan kaya! Tapi maap yaaa.. Persamaan ini nggak berlaku dengan “pake baju merahlah! Maka kamu akan putih!” :D

Kenapa ‘bersedekahlah maka kamu akan kaya?’ Liat lagi Quran. Allah bilang sedekah itu ibarat padi. Sebuah benih yang ditanam dan menumbuhkan 7 bulir. Yang masing masing bulir menghasilkan 100 biji. Setiap benih yang kita tanam dijanjikan dibalas 700 kali oleh Allah. Jadi buat yang masih ragu buat sedekah Tanya lagi kehati kita, MASIH RAGU DENGAN JANJI ALLAH??

Dan lagi siapa bilang sedekah harus ikhlas? kadang keikhlasan seringkali kita jadikan alas an buat belum mau sedekah. Banyak yang bilang ‘ah gue belom ikhlas, daripada sedekah nggak ikhlas mending gue nggak sedekah kan?’ makanya mulai sedekah! Kalo sekarang nggak ikhlas dibiasain sedekah sekarang juga nanti ikhlas. Dan jangan pernah mikir Allah gak akan bales nilai sedekah yang kamu tidak ikhlas itu. Tak ada yang sia-sia. Allah janji tak akan merugikan hamba-hamba-Nya.

Galau Itu Seperti Ini

Siapa tak ingin pergi sejauh jauhnya dan membiarkan diri mereka hanyut dalam kerinduan terdalam pada kampung halaman? Siapa tak ingin belajar ke satu tempat asing dan membiarkan kelima indra mereka menikmati tiap jengkal aroma daerah perantauan dan merindukan aroma lain yang selalu melekat di otak masing-masing? Saya percaya makin jauh kita pergi maka keinginan untuk kembali dan membangun daerah sendiri akan makin besar. Yah minimal begitu seharusnya yang dirasakan mahasiswa-mahasiswa Indonesia yang bertahun-tahun membangun wawasan internasional di luar negeri tapi minim grass root understanding. Mengerti apa yang terjadi diluar tapi menutup mata pada apa yang dirasakan saudara-saudara mereka di kampung halaman.

Siapa tak ingin berkontribusi pada pembangunan daerah mereka? Minimal mampu menyumbang satu solusi ditengah ribuan bahkan jutaan masalah yang kita sumbangkan. Tapi sejauh iniii.. Well, keoptimisan untuk Indonesia bukan berarti membuat saya optimis melihat masa depan Sumatera Barat juga. Banyak sekali hal yang harus dibenahi disana. Dan ditengah segala permasalahan saya menemukan satu potensi yang dihalangi oleh masalah-masalah lain yang bahkan bukan diciptakan manusia. Benarkah bencana alam akan sebegini menghawatirkan bagi proses pembangunan?

 Sebagai salah satu provinsi yang terletak di pesisir barat sumatera, dengan kata lain berhadapan langsung dengan patahan yang selalu bergeser di Samudera Indonesia membuat satu-satunya gaung yang terdengar dari provinsi ini adalah bencana alam. Tsunami Mentawai, Longsor, Gempa padang, Banjir Bandang Pesisir Selatan, bahkan letusan Gunung Marapi atau Gunung Talang.  Semuanya santer diberitakan membuat dunia seolah melupakan keunikan budaya salah satu suku besar yang ada disana : MINANGKABAU. Seolah dunia melupakan kekayaan sejarah yang dimiliki Bukittinggi. Melupakan Singkarak dengan event pariwisata Internasional mereka Tour De Singkarak. Membuat seluruh dunia melupakan ombak ke-3 terbesar di dunia yang ada di mentawai. Bahkan menutup mata pada keberadaan Sikuai Island dan mandeh resort sebagai pusat pengembangan pariwisata bahari Indonesia bagian barat. Semua bencana-bencana hebat itu membuat kita menutup mata pada segenap keistimewaan yang dipunyai Sumatera Barat – tanpa mencoba menutup mata dari potensi provinsi lain yang sama-sama istimewa.

Tapi ketika saya mencoba membuka mata saya untuk seluruh potensi tadi dan membiarkan otak saya berpikir tentang mimpi-mimpi untuk sumatera barat, semua mimpi-mimpi tadi membuat saya seolah menutup mata pada seluruh kemungkinan bencana yang terjadi disana. Hal ini yang bikin satu pertanyaan selalu melekat di otak saya : ADAKAH PELUANG PENGEMBANGAN WISATA PANTAI YANG AMAN DARI POTENSI TSUNAMI? Atau ADAKAH PELUANG PENGEMBANGAN WISATA LEMBAH YANG AMAN DARI POTENSI LONGSOR, BANJIR, DAN LETUSAN GUNUNG? *Oke ini dua kayanya. -,-

Well, aktivitas alam yang menciptakan bumi luar biasa di sumatera barat dan aktivitas alam juga yang menghancurkan mereka. Apa kita harus suruh seluruh penduduk sumatera barat mengungsi ke pekanbaru atau bahkan jadi TKW di Malaysia? Yayayaya.. -____-

Teamwork

Semua orang pengen didengar
Semua orang punya sifat ke-AKU-an sendiri
Semua orang menuntut dijaga hatinya tanpa pernah menjaga hati orang
Semua orang menuntut diperhatikan
Tanpa pernah mencoba memerhatikan
Dan ketika tidak diperhatikan malah sedih dan inget dulu tidak memerhatikan
Ujung-ujungnya ngambek-ngambekan
Ujung-ujungnya kesel-keselan
Bener penting kan untuk saling menghargai dan saling ‘merasakan’?
Bukankah teamwork itu seperti ini??




Sabtu, November 12, 2011

12 November 2011

Satu jam menggalang dana benar-benar menguji kesabaran dan memberi banyak sekali pelajaran. Kalaulah boleh saya tarik garis lurus maka saya berani bicara “Siapa yang duluan bilang satu jam mengerjakan aksi sosial berarti satu jam bermanfaat bagi orang lain? BOHONG. Kalaulah kita dapat 50 manfaat untuk orang lain, maka 100 manfaat lainnya adalah untuk diri sendiri. Rasanyaaaa…..bahagia. Iya. BAHAGIA. Pertama bikin kita lebih menghargai diri dan merasa ‘berarti’ untuk orang lain *for jomblo only nih ya, yang kaga jomblo tau dah merasa berarti untuk sidia, cie cieeeeeee*. Kedua bener-bener kita dikasih medan yang tepat untuk belajar sabar. Dan ketiga, hey coba deh melihat lebih jauh kehidupan jalan raya! Keempat, memberi terbukti mengaktifkan hormon yang bikin kita merasa senang. SENANG. SENANG. Dan SENANG lagi. J

Jujur yang paling menarik buat saya cek lagi deh poin kedua dan ketiga. Berada satu jam dijalanan membuat saya merasa bahagia, frustasi, marah, dan pengen nangis sekaligus. Ceritanya tadi pagi menjelang siang kita mencoba galang dana di perempatan kentungan yang hasilnya akan dikirimkan untuk korban bencana banjir bandang di Pesisir Selatan Sumatera Barat 3 November lalu. Niat boleh lah ya baik untuk disalurin ke korban bencana dan caranya pun mungkin cukuplah. Yang kita minta cuma sedikit uang yang secara SUKARELA disumbangkan. Sifatnya BUKAN memaksa. Seikhlasnya. Tapi belum bisa dipungkiri terkadang ada beberapa pihak yang memang merasa ‘terganggu’ dengan cara penggalangan dana seperti ini.

Konon tersebutlah seorang bapak-bapak dengan mobil mewahnya yang kebetulan sial berhenti di lampu merah kentungan. Dengan tampang polos dan sedikit tertindas saya menghampiri bapak-bapak tadi dan bilang “Pak, sumbangan buat bencana pak!”. Dan dengan angkuhnya seketika itu juga mobil tadi di gas jalan menyerempet saya lengkap dengan box uang untuk korban banjir bandang. Padahal WOI MASIH LAMPU MERAH WOY! Seketika itu juga rasanya pengen maki-maki bilang “Woy nyante dong nyet! Ini juga bukan keluarga gue yang kena bencana! Kita minta baik-baik ya! Seikhlasnya! Gak mau ngasih gak harus pake nyerempet gitu kan? KAMBING banget lo!” dan makian-makian itu pada akhirnya dengan derasnya mengalir cuma sampai dikepala saya. Gak cukup bikin superman si pembela kebenaran dateng dan memusnahkan bapak-bapak itu. Syukur juga cuma bikin saya mijet-mijet bahu saya yang kebentur spion bapak-bapak tadi. Belum sampe menjatuhkan box uang dan bikin uang-uang serebuan berceceran yang bikin ada mas-mas ganteng nan baik hati ngebantuin saya mungutin receh-receh itu ditengah lalu lalangnya kendaraan pada masa itu. Meenn romantis banget meeenn. Lebih romantis dari cowo-cowo betawi yang malam mingguan bawain martabak ke rumah. Dan itu baru satu dari banyak perlakuan buruk yang saya terima di jalanan. *emang ngenes*

Tapi Alhamdulillah yah box uang yang saya pegang akhirnya isinya banyak dan nyaris penuh. Antara orang kasian sama korban bencananya atau kasian sama tampang saya. -,-

Satu hal yang bakal tetep saya inget adalah ketika tukang parkir di toko sekitar situ manggil dan nanya ‘Mbak! Mbak siniii.. Ini buat bencana apa mbak?’ Dan begitu saya jawab “banjir bandang di Sumatera Barat pak” beliau kontan ngasih duit serebuan beberapa lembar yang sedang beliau pegang hasil dari markirin kendaraan orang pagi itu. Alhamdulillah. Semoga dibalasin berkali lipat oleh Allah. Amin. Hal lain yang juga saya ingat adalah mas mas yang berangkat kerja naik sepedamotor yang di kanan kirinya dipasangin gerobak buat ngangkutin dagangannya. Antara sayuran atau kerupuk. Begitu saya bilang buat bencana, si mas mas langsung merogoh kantongnya dan masukin beberapa lembar uang di box uang saya. Makasih ya mas yaa.. J

Dan begitu balik meskipun jidat saya jadi ibarat bendera sebagian masih putih karena terlindung kerudung dan sebagian lagi udah merah tersengat matahari, saya gak nyesel loh. Banyak hal yang bisa saya dapet. Mulai dari senang karena box uang terbuat dari tutup dus  yang saya sodorkan diisi orang yang tidak jarang cuma ngambil segepok uang tanpa dihitung dulu, pengen nangis diserempet orang, sampe terharu dikasi duit sama tukang parkir. Semua rasa campur aduk jadi satu. Dan pada akhirnya saya jadi pengen merevisi lagi teori saya tentang airport. Kalaulah dulu saya bilang di airport kita bisa melihat segala jenis kehidupan, maka di jalan raya kita bisa melihat lebih dekat soal kepedulian. Dituntut untuk mengeluarkan uang ditengah stress kemacetan jalan raya dan udara panas yang membakar memang bukan satu hal yang mudah. Meen! Godaan buat duduk pewe yang cantik di kendaraan sepertinya lebih menjanjikan meen! Sebagaimana saya yang selalu suka ada di airport seperti itu pula sepertinya saya akan mulai menyukai berada di jalan raya. J

Sabtu, Oktober 29, 2011

SAAT YANG TEPAT

Masih banyaknya masalah yang dihadapi bangsa seperti kemiskinan dan terorisme menimbulkan dua pilihan pandangan bagi masyarakat yakni psimis atau optimis memandang kemajuan bangsa. Akan tetapi, pada dasarnya jika setiap orang berpikir untuk menjadi ‘solusi’ bukan ‘masalah’ bagi Indonesia makan perubahan bukan mustahil dapat diwujudkan. Apalagi mengingat banyaknya potensi yang dimiliki oleh Indonesia. Masalah yang ada mestinya bukan merupakan satu hambatan bagi generasi muda untuk tidak berkarya. Justru masalah memberikan kita waktu yang tepat untuk menciptakan perubahan bagi bangsa.

SAAT YANG TEPAT
Oleh : Novia Valentina

Agustus 2011. Kabupaten Solok, Sumatera Barat

Liburan semester genap memang menjadi satu kebahagiaan sendiri bagi mahasiswa di perantauan. Konon karena waktu liburan yang panjang dan kebetulan tahun ini sekaligus bulan ramadhan, membuat ritual pulang kampung bertemu keluarga yang hanya sekali setahun menjadi berkesan. Di Sumatera Barat, tempat asal saya, di satu kesempatan saya berkunjung ke rumah paman yang sangat sederhana. Bersama seorang kakak, saya berjalan kaki menyeberangi sungai tanpa jembatan, hanya lompat dari satu batu ke batu yang lain dan mendaki sebuah bukit kecil dengan sawah berjenjang-jenjang di kanan kirinya. Disana, kita bisa menemukan jenis toilet ‘tradisional’ masyarakat yang jauh dari kesan sehat dan layak pakai. Apalagi toilet jenis ini digunakan oleh beberapa keluarga sekaligus.

Jangan bayangkan disana kita bisa menemukan closet duduk atau jongkok. Closet mereka hanya berupa kotak tiga sisi yang terbuat dari papan-papan lapuk dan dikondisikan diatas sebuah kolam. Satu sisi lagi terbuat dari seng bekas yang sudah bolong dan dapat digeser, digunakan sebagai pintu. Kontur tanah yang tidak rata membuat orang lain yang jika kebetulan berada di bagian yang tinggi dapat melihat kedalam toilet dari atas karena memang kotak kayu ini dibuat tanpa atap. Ketika buang air jika panas maka anda akan kepanasan dan jika hujan akan kehujanan. Soal lantai, closet jenis ini hanya terdiri dari dua kayu yang melintang dan diberi jarak sebagai tempat pup, lengkap dengan ikan-ikan kelaparan yang menanti makanan dari bawah. Dan jangan coba bayangkan ada kran atau bak air di dalam, biasanya untuk cebok mengalirlah sebuah pancuran air keruh yang bermuara pada celah antara dua kayu tadi. Selain terlalu terbuka dan tidak nyaman, teorinya closet jenis ini lebih gampang menularkan penyakit. Apalagi dipakai secara bersama oleh beberapa keluarga.

Ketika banjir dan belum terpenuhinya kebutuhan air bersih jadi masalah di kota besar, MCK yang tidak sehat dan distribusi air bersih masih menjadi masalah di pedesaan. Pandangan yang masih Java Oriented dan menganggap Indonesia itu adalah pulau Jawa atau setidaknya pulau Jawa dapat mewakili Indonesia, membuat masalah-masalah pedesaan kurang terangkat ke permukaan. Kalah populer dengan masalah kemacetan Jakarta atau proyek pembangunan BKT ( Banjir Kanal Timur ). Itulah kenapa penting bagi pembuat kebijakan memiliki dasar grassroots understanding yang memadai. Agar kebijakan-kebijakan yang dihasilkan lebih tepat sasaran dan mampu mewujudkan ‘keadilan sosial bagi seluruh rakyat indonesia’. Hey! Bukankah kita berada di saat yang tepat membangun kesetaraan bangsa?

7 Oktober 2011. Yogyakarta

Ketika tepat pukul 00.00 WIB, dipusat kota, 0 km Kota Yogyakarta dilangsungkan perhelatan meriah menyambut 255 tahun Kota Jogja, maka 2 jam setelahnya aksi teror dan ledakan bom molotov menggemparkan masyarakat kota. Bom yang meledak di ATM BRI Jalan Gejayan tersebut bahkan disertai sepucuk surat bertuliskan ‘Negara-Korporasi-polisi-militer adalah teroris sebenarnya, Pemberontakan sosial akan terus berlanjut karena mentari masih bersinar’. Hal ini mengingatkan saya sejenak dengan semangat #IndonesiaUnite.

#IndonesiaUnite adalah sebuah semangat nasionalisme masyarakat Indonesia yang muncul akibat pengeboman JW Marriot dan Ritz Carlton 2009. #IndonesiaUnite berusaha menyuarakan bahwa Indonesia masih ADA, berjuang, dan bersatu melawan aksi terorisme. Menyatakan bahwa terorisme bukanlah ciri Indonesia dan masyarakat Indonesia bukan teroris. Semangat persatuan ini juga yang cukup banyak membantu kestabilan pariwisata nasional masa itu. Meski Manchester United gagal datang ke Indonesia, angka kunjungan wisata nasional tak berubah drastis.

Semangat #IndonesiaUnite ini yang membuat saya mempertanyakan motif pelaku teror peledakan ATM kali ini. Ketika aksi teror yang ada malah meresahkan warga lantas benarkah aksi ini malah mengecam polisi dan militer selaku badan pertahanan dan keamanan nasional sebagai teroris sebenarnya? Ketika aksi ini malah membahayakan penduduk benarkah mereka menyebut hal ini sebagai pemberontakan sosial? Hey! Bukankah kita berada di saat yang tepat menyuarakan perdamaian dan anti terorisme?

Agustus 2010. Bukittinggi, The Dream Land of Sumatera

Pernah ke Bukittinggi? Kota sejuk dan penuh sejarah yang menginspirasi! Konon Bukittinggi merupakan kota terbesar di Sumatera pada masa penjajahan Belanda dan Jepang. Bahkan menjadi satu dari tiga kota yang pernah jadi ibukota NKRI. Jakarta, Yogyakarta, dan Bukittinggi!!

Sesuai namanya, kota ini punya kontur yang berbukit-bukit, beriklim sejuk, dan punya pemandangan yang indah. Bagi yang pernah dengar, di kota ini terdapat ngarai sianok. Tebing tinggi yang saling membahu kokoh dan membentuk lembah yang dialiri sebuah sungai kecil jernih ditengahnya. Meskipun saya belum pernah ke pulau Bali, Bukittinggi cukup membuat saya terkagum-kagum akan keindahannya. Bali, si pulau kecil yang bahkan lebih dikenal dibanding negara yang memayunginya sendiri, pasti lebih indah dari ini.

Kalaulah di Jawa kota seperti Yogyakarta, Solo, atau Pekalongan dikenal menjadi pusat industri batik, di Sumatera Barat batik hanya banyak diproduksi di Bukittinggi. Dan yang membuat saya heran, saya pernah menemukan batik bercorak rumah gadang, rumah tradisional Minangkabau, di pasar Bringharjo. Pasar tradisional batik Jogja yang legendaris. Cukup membuat saya merindukan Bukittinggi.

Bukittinggi juga seringkali dikunjungi wisatawan asing maupun domestik untuk berwisata sejarah. Di kota ini salah seorang proklamator Indonesia, bapak Muhammad Hatta, dilahirkan dan dibesarkan. Rumah Bung Hatta ini hingga sekarang dikelola sebagai situs bersejarah dan dibuka untuk umum setiap hari kerja. Selain itu, yang juga cukup dikenal adalah Lubang Jepang. Tempat ribuan tentara sekutu dan pejuang nasional Indonesia yang memberontak dipenjara dan disiksa dibawah tanah. Lubang ini juga digunakan sebagai tempat melarikan diri bagi tentara Jepang.

Dimata saya, Bukittinggi adalah kota yang indah, damai, dan jadi simbol perjuangan. Tak heran Pandji dalam Nasional.is.me-nya bilang ‘Datanglah sekali-kali ke Bukittinggi. Bukittinggi yang menyimpan banyak inspirasi.’ Ah tapi rasanya selain Bukittinggi tiap kota punya keistimewaan masing- masing dan layak dikunjungi. Hey! Bukankah kita berada di saat yang tepat membangun pariwisata nasional?

9 Oktober 2011. indONEsia

Begitu banyak PR yang dimiliki bangsa ini, mulai dari mengentaskan kemiskinan, tetap berjuang melawan terorisme, mewujudkan pembangunan yang merata, menghapuskan korupsi, dan ribuan tugas lain yang belum terselesaikan. Banyak sekali pihak yang psimis akan kemajuan negeri ini. Banyak juga yang mencoba menyalakan lilin ditengah kegelapan. Berpikir psimis atau optimis mungkin adalah pilihan. Tapi mencoba menjadi bagian dari SOLUSI bukan MASALAH bangsa itu bukan pilihan. Tapi KEWAJIBAN!

Coba setiap orang bisa meloloskan diri mereka masing-masing dari kemiskinan, dari sulitnya akses terhadap fasilitas kesehatan, meloloskan diri dari masalah air bersih, maka semua orang sudah menjadi ‘solusi’ bagi bangsa mereka. Rumitnya masalah bangsa bukan alasan untuk mundur dan membiarkan diri kita terseret menjadi ‘masalah’ bersama. Justru rumitnya masalah bisa jadi berkah bagi kita semua. Hey! Bukankah kita berada di saat yang tepat membawa perubahan untuk Indonesia?

Sabtu, Oktober 15, 2011

IndONEsia


(Sebuah tulisan yang telat di post. :P)


DIRGAHAYU Indonesia yang ke 66

Kalaulah hari ini banyak yang ngutukin koruptor bilang “emang Indonesia udah merdeka? Bukannya masih dijajah koruptor?” atau “selamat ulang tahun Indonesia, semoga hari ini semua koruptor insyaf”atau sejenisnya, hari ini saya pengen doa yang lain doong.

“Semoga segenap rakyat Indonesia bisa aktif, kreatif, dan inisiatif nyumbang sesuatu untuk bangsa Indonesia. Caranya? Hmmm.. banyaakk.. paling enggak bisa ngejaga kualitas hidup dan kesejahteraan keluarga sendiri juga udah sangat membantu kok. Apalagi bisa ikut aktif di industri kreatif Indonesia, bisa jadi arsitek yang bikin nyaman lingkungan kota, jadi guru yang bisa mencerdaskan anak bangsa, aktif di pemerintahan yang bisa bantu orang orang di sekitar kita dengan segenap kekuasaan yang kita punya. Yuk mari bersatu bikin Indonesia jadi negara yang diperhitungkan dan berpengaruh di dunia persilatan. Hehehe.. “


Cukup bikin terharu doa-doa dan harapan orang-orang hebat Indonesia lewat jejaring sosial. Salah satunya doanya bapak Ridwan Kamil (buat yang belum baca) bilang gini : “Saya ingin memerdekakan kota-kota kita dari kemacetan, kemasabodohan, kemiskinan kota, dan hilangnya ruang public, saya coba mulai dari bandung” FYI om Ridwan Kamil ini salah seorang arsitek dan urbanis asal Bandung.

Liat kan kalo berbuat sesuatu untuk Indonesia itu tak harus masuk dalam pemerintahan. Cukup menyumbang yang terbaik sesuai dengan bidang ilmu dan profesi kita masing-masing.

Eh iya hampir kelupaan. Kenapa saya kasih judul IndONEsia dimana ONE ditulis caps lock, karena saya percaya kita punya SATU tanah air, SATU bangsa, dan SATU bahasa yang hanya dengan perSATUan bisa jadi nomer SATU! Semangat merdekaaa!

Sungai Rumbai 17 Agustus 2011

Rabu, Oktober 12, 2011

PENGARUH JEJARING SOSIAL TERHADAP PERKEMBANGAN SASTRA INDONESIA

ABSTRAK 

Bagi sebagian orang, jejaring sosial dianggap hanya mampu memberi celah bagi perkembangan bahasa “alay” yang menurut Wikipedia Indonesia merupakan sebuah istilah merujuk pada fenomena perilaku remaja Indonesia. Hal ini terutama dimaksudkan sebagai tata bahasa dan gaya hidup. Dicirikan dengan menggabung huruf besar-kecil, menggabung huruf-angka, atau menyingkat dengan berlebihan. Bahasa alay seringkali diterjemahkan sebagai suatu bentuk budaya baru yang  merusak struktur tata bahasa Indonesia yang baik dan benar.


Bahasa alay yang tercipta tanpa aturan bagi sebagian orang dianggap lebih keren dan gaya, bahkan penelitian yang dilakukan dalam penyusunan karya ini menunjukan bahwa beberapa responden setuju bahasa alay merupakan satu ‘budaya baru hasil karya masyarakat yang dapat menambah keluwesan bahasa Indonesia, berdalih bahwa kebudayaan memang berkembang, fleksibel, dan tidak kaku. Demikian modernisme mampu menyisipkan budaya alay dalam khazanah sastra Indonesia. Lantas benarkah jejaring sosial yang diciptakan untuk memudahkan masyarakat berkomunikasi jarak jauh membawa pengaruh buruk bagi perkembangan tata bahasa Indonesia?

Jejaring sosial beberapa tahun belakangan telah mengalami era kejayaan yang menjadi gaya hidup baru seluruh kalangan masyarakat. Twittter sebagai salah satu bentuk microblog jejaring sosial mampu menduduki peringkat ketiga jejaring sosial terbesar setelah facebook dan myspace dalam waktu singkat sejak dirilis 2007 lalu. Dalam perkembangannya di Indonesia, masyarakat Indonesia tercatat merupakan pengguna keenam terbanyak microblog 140 karakter ini. Twitter selama perkembangannya menghubungkan seseorang dengan sahabatnya, selebritis dan penggemarnya, bahkan penulis dengan pembacanya Hal ini secara tidak langsung dapat merubah cara masyarakat bersosialisasi menjadi lebih dekat dalam artian semu. Mendekatkan apa yang tak tampak. Lalu apa benar twitter mampu meningkatkan kemampuan berbahasa manusia menjadi lebih luwes dan fleksibel? Dalam artian seperti apa? Meramaikan sastra Indonesia atau malah menambah media kealayan ditengah masyarakat?

Dua tahun dirilisnya twitter, Oktober 2009 muncul sebuah account public yang bebas diramaikan tweeps (sebutan bagi pengguna twitter) manapun. Berawal dari keisengan beberapa orang penulis meramaikan twitter dengan gombalan-gombalan khas remaja terciptalah account @anjinggombal yang cukup heboh dibicarakan di dunia maya. Account ini menciptakan celah bagi remaja dalam berkreasi dalam bentuk gombalan dan bebas me-mention account ini. Gombalan-gombalan yang dianggap paling seru di post kembali oleh @anjinggombal untuk dipublikasikan kepada seluruh follower account ini. @anjinggombal pada akhirnya mampu menarik perhatian banyak orang dan dibukukan pada Juli 2010 bertajuk “@anjinggombal, Aku Padamu, Karena Cinta Dapat Ditemukan Dalam Kata”, dengan royalti sepenuhnya disumbangkan kepada salah satu yayasan sosial. Hingga saat ini banyak muncul account-account public tempat berbagi cerita dan berkreasi tweeps tanah air. Lantas masihkah jejaring sosial di-judge sebagai media perusak tata bahasa Indonesia?

Sejauh ini, jejaring sosial terutama twitter mampu meningkatkan kemampuan berbahasa masyarakat menjadi lebih luwes dan fleksibel serta meningkatkan kreativitas masyarakat. Sebut saja beberapa account yang marak dikunjungi seperti @anjinggombal, @mentionke, @ceritaSMA, ataupun @ihatequote yang mampu mengajak para tweeps ikut menulis dan bercerita, berlomba-lomba memperlihatkan kreativitas masing-masing. Selain itu beberapa gaya bahasa yang seringkali digunakan tweeps seperti panggilan ‘eneng’ atau ‘abang’ mestinya mampu dianggap sebagai penguat budaya Indonesia. Bisa dikatakan twitter merupakan salah satu pelopor filosofi modern. Penelitian ini dilakukan dalam rangka melihat sejauh mana peran twitter sebagai salah satu jejaring sosial mampu berperan dalam kesusastraan Indonesia?

Senin, Oktober 03, 2011

Kampungku Ngenes Sekalii --"

Liburan selalu saja bawa sesuatu yang berbeda buat saya. Bawa pandangan baru tentang hal-hal yang dulu saya abaikan. Kalaulah liburan lalu saya banyak berbicara tentang jalan penghubung kota Solok-Padang dengan kondisi yang ‘ngenes,’ liburan ini saya mendadak tersentak dengan sesuatu yang lebih mikro. Di studio biasanya kita selalu membahas soal kelengkapan infrastruktur. Yah biasanya sih saya hanya memerhatikan perihal infrastruktur di ruangan studio saat analisis suatu wilayah tapi hari itu saya cukup kaget menyadari “kok sekarang diluar studio gue mikirin infrastruktur ya?”

Buat yang tiap hari melakukan perjalanan rutin Solok-Padang atau paling enggak mahasiswa yang tiap weekend balik ke Solok tentu saja sudah sangat akrab dengan rute ini. Buat yang tahun lalu baca postingan saya soal liburan juga pasti ngerti batapa rute Padang-Solok adalah sepotong bagian jalan arteri di Sumatera Barat dengan rute cukup berat naik turun berbelok-belok melewati daerah rawan longsor. Kemacetan jadi hal yang biasa tanpa harus lampu merah menyala dulu disana. Ketika diguyur hujan akan mutlak longsor. Terus terang saya kaget di mata kuliah geologi, kebencanaan alam, dan tata ruang kemarin melihat jenis batu metamorf keras hasil tumbukan dua lempeng patahan yang rawan longsor. Bukannya mengapa tapi karena saya setiap hari harus melihat jenis batu tersebut hanya beberapa km dari rumah saya. Waktu SMA saya bahkan seringkali  dilarang kedua orang tua bertandang ke kota Padang akibat rawannya arus transport di area tersebut.

Di jalanan yang longsor waktu hujan sementara frekuensi hujan di daerah saya terbilang cukup sering, biasanya tengah malam jalanan akan macet dipenuhi dengan truk pengangkut barang-barang berat baik produk berupa besi, batu bara, dan lain lain. Sepanjang perjalanan yang kita temui hanyalah truk, bis, dan travel. Itupun ada satu titik dimana separuh badan jalan sudah tak layak pakai dan berbatasan langsung dengan tebing curam. Hal ini yang bikin sistem buka tutup dijalankan di kawasan ini. Bus, truk, dan travel yang lewat dari arah kanan dan kiri bergantian lewat hanya menggunakan separuh badan jalan dengan beberapa orang pemuda yang mengomando. Jalanan yang biasa ditempuh hanya memakan waktu 1.5 jam jika malam datang berubah jadi 4-5 jam perjalanan. Parahnya lagi rute yang berat seperti itu ditempuh TANPA lampu jalan sama sekali. Dibeberapa titik hanya ada signage orange petunjuk arah jalan dengan cat menyala di waktu malam. Itupun tidak di semua titik curam. Dan hey! Masih belum cukup itu semua, kawasan ini seringkali berkabut pada malam hari. Bikin saya heran ini sebenernya sopir di Sumatera Barat matanya make mata elang semua apa sayanya yang katrok jarang denger berita kecelakaan di daerah itu? Bahkan diakhir diburan saya diperjalanan ke Minangkabau International Airport si supir harus menyalakan AC ditengah dinginnya subuh yang menusuk tulang. Katanya “Kalau AC nya nggak nyala, jalannya nggak keliatan dek” dan guess what! Kaca depan mobil jadi bening banget, walaupun masih berkabut jalanan tetap terlihat meskipun samar. Saya jadi mikir bukannya prinsip AC bikin sejuk di dalam dan hawa panasnya keluar ya? Kalau dingin didalam bukannya malah mengembun ya? Ah entahlah tak terjangkau otak saya ini.

Saya jadi ingat perjalanan ke pantai Baron di Wonosari yang naik dan berbelok belok. Waktu itu teman-teman saya saja mengeluh ngeri, saya sih santai saja. Lha wong rute saya biasanya Solok-Padang lebih serem dari pada itu. Emang sih sama-sama naik dan berbelok-belok. Cuma kan nggak di tebing yang separuh jalannya sudah longsor, nggak di tempat yang kapan saja kita bisa ditimpuk batu batuan rapuh dari atas, nggak ditempat yang berkabut, dan nggak TANPA LAMPU JALAN kalau malam!

Kondisi seperti ini bikin saya berpikir betapa banyaknya orang pintar dari Sumatera Barat, memang sih lebih banyak orang kaya tapi orang berpengaruh gak kalah banyak. Kenapa bisa se-ngenes ini? Dan kalau saya lihat dosen saya bener, daerah sepanjang infrastruktur yang tidak memadai tidak berkembang. Walaupun jalannya itu jalan Arteri tapi cuma beberapa rumah yang ditemui di pinggir jalan. Dan itupun palingan warung kopi tempat berhenti supir dikala ngantuk dan macet. Kota Soloknya sendiri cukup berkembang di sepanjang jalan utama. Dan lagi karena Solok jadi pintu keluar dari sawahlunto dan dharmasraya, kegiatan distribusi barang di Solok masih cukup rame. Tapi tanpa adanya ‘tidakan’ nyata ngerubah itu semua, walaupun jalur Solok-Padang Panjang-Padang yang notabene muter tetep lancar, saya menghawatirkan beberapa kesulitan yang akan muncul kemudian. Bayangkan kalau jalur jogja solo vakum darat laut dan udara! Dan mirisnya lagi, pemerintah seperti adem ayem bakal bikin jalur alternative cuma kalau jalanan yang tinggal separuh badan jalan tadi benar-benar amblas semua. Ayolah sumbar butuh banyak planner!