Kamis, Februari 02, 2012

Materialisme

“Materialistis” mungkin belakangan sudah melabeli remaja-remaja putri di Indonesia. Bukan hal yang baru memang. Pandangan bahwa wanita mencintai uang memang sudah berakar di kepala masyarakat Indonesia. Bahkan terkadang pandangan ini ikut ‘dijual’ di beberapa program TV seperti  sinetron yang menceritakan tentang wanita yang rebutan warisan, atau remaja putri yang ‘doyan om-om’ cuma demi uang. Lantas apakah pandangan ini benar-benar sesuai dengan realita di lapangan? Apakah sikap yang seperti ini pantas untuk dianut oleh remaja-remaja putri di Indonesia?

Dilihat dari sisi keislaman, Allah SWT menjanjikan akan mengabulkan doa-doa hamba-Nya yang beriman. Termasuk dari sisi materi. Rasulullah SAW pun dicatat sejarah sebagai salah satu pedagang ulung yang jujur. Bahkan masuknya beberapa tokoh yang terbilang kaya disebutkan sebagai salah satu ‘pertolongan’ bagi umat islam kala itu. Lantas kenapa dewasa ini pandangan bahwa islam sama sekali terpisah dari harta dan kebendaan seolah menjadi kiblat cara pandang sebagian besar tokoh-tokoh yang dikenal sebagai sosok yang dekat dengan agama? Kenapa harta belakangan dipandang sebagai symbol keserakahan bukan sebagai suatu benda yang mampu memberikan surga bagi si pemilik ketika harta tersebut digunakan dijalan-Nya? Well, islam dan harta bukanlah sesuatu yang terpisah. Keduanya merupakan dua hal yang saling mendukung atau saling menjerumuskan. Tergantung ‘wise’-nya si empunya.

Adalagi cara pandang yang salah seperti “uang gak bisa beli kebahagiaan” menghalalkan kita berpikir ‘gak ada uang juga gak apa-apa’. Padahal benarkah demikian? Kalaulah ada uang saja belum mampu membeli kebahagiaan, apalagi tanpa uang! -______- Paradigma yang salah ini mestinya kita coba pikirkan ulang. Kalau orang bilang uang tak bisa memberi kebahagian berarti uang dan kebahagiaan merupakan dua hal yang benar-benar terpisah dan tidak terkait sama sekali. Lantas nyaman mana menangis di rumah mewah dibanding menangis di gubuk derita dengan rembesan hujan menetes dikepala akibat atap rumah yang bocor? Jelas lebih nyaman menderita ditengah rumah mewah! Uang tak bisa beli kebahagiaan! Memangnya kemiskinan bisa? Sama! Kaya dan miskin sama-sama tak mampu membeli kebahagiaan. Lantas kenapa kita bersikeras untuk tidak kaya? Masing-masing orang punya peluang bahagia dan tidak bahagia 50 : 50. Si kaya punya peluang kebahagiaan 50. Dan si miskin 50. Lantas kita punya alasan apa untuk tidak kaya? Jadi, sah-sah saja saya pikir ketika kita punya hasrat ingin kaya. Bahkan harusnya memang begitu. Seharusnya semua remaja putri di Indonesia MEMANG ingin kaya. Harusnya kita berbondong bondong berdoa pada Allah semoga kita semua diberi kekayaan yang berlimpah. Amien.

Jadi sebenernya apa yang salah? Yang salah adalah terlalu mencintai uang hingga menghalalkan segala cara untuk dapat uang. Itu saja. Tak ada yang salah dari menginginkan kekayaan. Cuma jangan sampai hal ini bikin kita buta dan melihat segalanya dari sudut pandang ‘UANG’. Kadang program-program televisi terlalu berlebihan menggambarkan kecintaan wanita terhadap uang. Padahal toh kenyataannya hanya sedikit dari total wanita yang benar-benar buta kerana uang seperti yang seringkali ditayangkan. Dan hal lain yang salah adalah mencampur adukkan urusan uang dengan hal lain di kehidupan kita. Itu juga yang bikin banyak orang korupsi, matre, atau pilih-pilih teman. Intinya, boleh berniat untuk kaya tapi teteup perhatikan caranya yaa.. J

Tidak ada komentar:

Posting Komentar