Senin, Juni 18, 2012

Menyoal Pendidikan Vokasi Indonesia

Ditengah polemik sekolah vokasi yang dewasa ini kian memanas, rasanya sedikit ‘awam’ ketika saya yang bahkan mahasiswa S1 di kampus rakyat tempat vokasi ‘dipermasalahkan’ hanya menganggap permasalahan ini sekedar ‘demo anak D3 yang pengen S1.’ Picik memang ketika mengetahui hal ini sejatinya jauh lebih besar dari apa yang selama ini saya pikirkan.

Bicara mengenai vokasi sejatinya juga bicara mengenai arah pengembangan pendidikan Indonesia yang rasanya cukup bias dan kabur. Vokasi yang selama ini diidentikan dengan ‘diploma’ mungkin memang pada dasarnya membutuhkan ‘pengakuan’ dan derajat yang sama dimata masyarakat dan dunia kerja. Menyoal program vokasi tak ‘dipandang’ sejajar dengan program regular strata 1 mungkin bukan hal yang perlu ditutup tutupi dan ‘tidak etis’ untuk dibicarakan lagi. Buktinya mahasiswa program vokasi sendiri rela berdemo untuk mendapatkan gelar strata 1. Sebuah ‘pengakuan’ dari pihak yang bersangkutan bahwa vokasi sejauh ini tak mampu dipandang sejajar dengan program regular strata 1. Semacam cara pandang yang salah ditengah system pendidikan yang juga salah arah.

Entahlah apa sejatinya itu vokasi dan apa itu diploma. Apakah vokasi memang bisa diidentikkan dengan diploma atau tidak, yang jelas Indonesia mungkin memang butuh belajar banyak pada system pendidikan Belanda. Di negara ‘penjajah’ tersebut perguruan tinggi dibagi kedalam dua jenis yaitu Universitas dan University Of Applied Science (a.k.a Hogeschool atau VOKASI). University of Applied Science (selanjutnya disebut UAS) merupakan ‘universitas’ yang system pendidikannya berorientasi pada ilmu-ilmu terapan. UAS memang dibangun untuk menghasilkan tenaga kerja-tenaga kerja yang andal dibidangnya. Sedangkan Universitas sendiri dibangun untuk memfasilitasi pengembangan ilmu pengetahuan di negara tersebut dengan menekankan pada kegiatan research. Sederhananya, UAS menghasilkan tenaga kerja dan Universitas mencetak peneliti. Sama seperti program vokasi dan regular di universitas-universitas di Indonesia. Bedanya, Universitas dan UAS di belanda mempunyai program yang sama. Undergraduate, graduate, dan postgraduate degree. Harusnya, Indonesia memang punya S1 Vokasi dan S1 Regular.

Berkaca dari pendidikan Jepang, di negara ini vokasi mempunyai persentase yang lebih besar. Dengan kata lain dicetak lebih banyak tenaga kerja dibanding ‘peneliti’ dan ‘akademisi’ yang berperan dalam pengembangan ilmu pengetahuan. Hal ini memang sejatinya disesuaikan dengan kebutuhan pasar. Pun jika Indonesia mempunyai S1 Vokasi dan S1 Reguler dengan status dan derajat yang sama di dunia kerja dan dimata masyarakat, saya sendiri optimis vokasi akan menggaet lebih banyak peminat dan memproduksi lebih banyak tenaga kerja. Mungkin dengan demikian system pendidikan Indonesia tak lagi punya arah yang bias seperti saat ini. Ketika banyak dibutuhkan tenaga kerja yang andal, vokasi malah ‘ditekan’ dan tidak diberi ‘pengakuan’ yang sama dengan program regular strata 1 yang notabene ‘dididik’ teoritis bukan praktis. Harapannya, semoga kedepan Indonesia mampu memberikan ‘masa depan’ untuk para ‘pembelajar praktis’ yang akan mengisi lapangan kerja di Indonesia.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar