Bicara mengenai
vokasi sejatinya juga bicara mengenai arah pengembangan pendidikan Indonesia
yang rasanya cukup bias dan kabur. Vokasi yang selama ini diidentikan dengan ‘diploma’
mungkin memang pada dasarnya membutuhkan ‘pengakuan’ dan derajat yang sama dimata
masyarakat dan dunia kerja. Menyoal program vokasi tak ‘dipandang’ sejajar dengan
program regular strata 1 mungkin bukan hal yang perlu ditutup tutupi dan ‘tidak
etis’ untuk dibicarakan lagi. Buktinya mahasiswa program vokasi sendiri rela
berdemo untuk mendapatkan gelar strata 1. Sebuah ‘pengakuan’ dari pihak yang
bersangkutan bahwa vokasi sejauh ini tak mampu dipandang sejajar dengan program
regular strata 1. Semacam cara pandang yang salah ditengah system pendidikan
yang juga salah arah.
Entahlah apa
sejatinya itu vokasi dan apa itu diploma. Apakah vokasi memang bisa
diidentikkan dengan diploma atau tidak, yang jelas Indonesia mungkin memang
butuh belajar banyak pada system pendidikan Belanda. Di negara ‘penjajah’
tersebut perguruan tinggi dibagi kedalam dua jenis yaitu Universitas dan University Of Applied Science (a.k.a Hogeschool
atau VOKASI). University of Applied
Science (selanjutnya disebut UAS) merupakan ‘universitas’ yang system pendidikannya
berorientasi pada ilmu-ilmu terapan. UAS memang dibangun untuk menghasilkan
tenaga kerja-tenaga kerja yang andal dibidangnya. Sedangkan Universitas sendiri
dibangun untuk memfasilitasi pengembangan ilmu pengetahuan di negara tersebut
dengan menekankan pada kegiatan research. Sederhananya, UAS menghasilkan tenaga
kerja dan Universitas mencetak peneliti. Sama seperti program vokasi dan
regular di universitas-universitas di Indonesia. Bedanya, Universitas dan UAS
di belanda mempunyai program yang sama. Undergraduate, graduate, dan
postgraduate degree. Harusnya, Indonesia memang punya S1 Vokasi dan S1 Regular.
Berkaca dari
pendidikan Jepang, di negara ini vokasi mempunyai persentase yang lebih besar. Dengan
kata lain dicetak lebih banyak tenaga kerja dibanding ‘peneliti’ dan ‘akademisi’
yang berperan dalam pengembangan ilmu pengetahuan. Hal ini memang sejatinya
disesuaikan dengan kebutuhan pasar. Pun jika Indonesia mempunyai S1 Vokasi dan
S1 Reguler dengan status dan derajat yang sama di dunia kerja dan dimata
masyarakat, saya sendiri optimis vokasi akan menggaet lebih banyak peminat dan
memproduksi lebih banyak tenaga kerja. Mungkin dengan demikian system pendidikan
Indonesia tak lagi punya arah yang bias seperti saat ini. Ketika banyak
dibutuhkan tenaga kerja yang andal, vokasi malah ‘ditekan’ dan tidak diberi ‘pengakuan’
yang sama dengan program regular strata 1 yang notabene ‘dididik’ teoritis
bukan praktis. Harapannya, semoga kedepan Indonesia mampu memberikan ‘masa
depan’ untuk para ‘pembelajar praktis’ yang akan mengisi lapangan kerja di
Indonesia.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar