Diskusi dengan beberapa
pihak membuat saya bertanya-tanya apa itu feminisme
sebenarnya. Menurut Ustad Akmal Syarfil dalam Seminar Indonesia Tanpa Jaringan
Islam Liberal yang digelar di Jurusan Teknik Arsiitektur dan Perencanaan
beberapa waktu lalu, feminisme adalah
paham yang menempatkan wanita dan pria kedalam derajat yang sama dimana yang
membedakan keduanya hanyalah fungsi biologis saja. Sejauh ini saya rasa tak ada
yang salah dalam feminisme.
Feminisme dan isu kesetaraan gender sejatinya bukan lagi hal yang baru. Isu yang
sama telah berkembang bahkan sebelum Islam muncul. Pada masa ini wanita
dipingit, ditindas, dan dijadikan objek kekerasan. Munculnya Islam merupakan
satu titik besar dalam perkembangan feminisme
dimana Islam muncul sebagai ‘pembela’ yang mengangkat derajat wanita untuk
dihormati dan diperlakukan dengan baik. Sederhananya, nilai-nilai feminisme ikut terpatri dalam nafas
islam itu sendiri.
Kemunculan Irshad Manji
dewasa ini sebagai ‘duta’ muslim yang melegalkan homoseksual dengan dalih feminisme pada dasarnya merupakan bentuk
‘salah kaprah’ terhadap feminisme itu
sendiri. Beliau memandang ketika wanita dan pria adalah sama lantas kenapa
tidak berhubungan sesama jenis? Kenyataanya feminisme
tidak sesederhana itu. Feminisme
bukan tidak mengakui perbedaan fungsi biologis yang ada antara pria dan wanita.
Fungsi biologis yang dimaksud tentu saja bukan sekedar perbedaan bentuk fisik
melainkan ketertarikan dan kebutuhan kepada lawan jenis yang muncul secara
naluriah dan diatur dalam AL Quran. Ketika pria dan wanita pada faktanya mempunyai
perbedaan fungsi biologis dan kebutuhan satu sama lain lantas kenapa harus
berhubungan sesama jenis? Penafsiran terhadap homoseksualitas sebagai bentuk
klimaks dari feminisme adalah sebuah
cara tafsir yang salah. Pada faktanya homoseksualitas toh sama sekali tak ada
hubungannya dengan feminisme.
Satu hal yang
disayangkan adalah ketika kontroversi yang dimunculkan Irshad Manji pada
akhirnya menyebabkan feminism dan Islam dianggap sebagai dua hal yang
bertentangan dan saling berseberangan. Padahal Islam muncul sebagai satu agama
feminis yang terang-terangan melarang homoseksualitas. Homoseksualitas BUKAN
bagian dari feminisme dan feminisme BUKAN tidak tertuang dalam
semangat islam. Pembatasan terhadap perkembangan feminisme yang mungkin saja akan dilakukan nanti hanya akan
berdampak memicu peradaban kembali kepada Zaman Jahiliyah sebagaimana yang
terjadi pada masa pra kemunculan islam.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar